MODEL-MODEL “HUMAN EFFECTIVENESS”/MANUSIA YANG EFEKTIF

Manusia Efektif
Ada beberapa model kepribadian sehingga seseorang dapat dikatakan manusia efektif. Model tersebut sebagai berikut:
1. Aktualisasi Diri Maslow
Maslow mengembangkan teori functioning positifnya dengan asumsi bahwa manusia memiliki beberapa kecendrungan yang didasarkan secara genetik. Dia melihat kecendrungan-kecendrungan ini berkembang sesuai dengan kebutuhan yang menurut mereka baik atau netral, bukan yang buruk. Maslow kemudian mengkonseptualisasikan perkembangan manusia sebagai suatu proses dimana kecendrungan dasar manusia ini diaktualisasikan dan diwarnai oleh potensi-potensi kemanusiaan. Namun demikian, pada dasarnya dia melihat kepribadian manusia sebagai sesuatu yang berkembang dari dalam, bukan sesuatu yang terbagi secara merata tanpa psikopatologi, dengan kata lain, kepribadian itu diamati secara lebih luas sebagai akibat dari frustasi. Maslow menggambarkannya lebih lanjut ketika dia mengatakan:
Situasi inner manusia ini bukanlah sesuatu yang kuat dan tak mengandung kesalahan seperti insting binatang. Ia lemah dan samar-samar dan bisa diatasi dengan mudah melalui kebiasaan, tekanan kultural dan sikap-sikap yang salah terhadapnya. Bahkan meskipun ia lemah, bagi manusia normal ia susah dihilangkan, berbeda bagi mereka yang sakit. Meskipun ia diingkari, ia tetap mengintai….
Maslow mengatakan bahwa kondisi untuk pertumbuhan atau aktualisasi optimum disebut dengan teori “hierarki kebutuhan”. Secara singkat, maslow mengklasifiksikan kebutuhan manusia ke dalam beberapa tingkatan sampai kepada motivasi “tingkat-tinggi”, setiap tingkatan itu muncul seketika setelah kebutuhan yang lebih rendah itu terpenuhi. Hierarki yang dimaksud adalah:
1. Kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan akan cinta
4. Kebutuhan akan harga diri
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Maslow telah berusaha mempelajari tingkat aktualisasi diri ini dalam functioning manusia melalui studi materi-materi biografi suatu kelompok dan orang-orang bersejarah yang dianggap telah mencapai tingkat tinggi ini. Dari studi ini, maslow mencatat 15 karakteristik orang yang mencapai tingkat aktualisasi diri yaitu:
1. Orientasi yang realistis. Orang yang mencapai tingkat aktualisasi diri adalah orang yang menerima realitas dan biasanya tidak merasa terancam atau takut kepada sesuatu yang belum dikenalnya. Mereka tidak menunjukkan kebutuhan yang berlebihan untuk mendapatkan kepastian, keamanan, keterbatasan, dan tatanan
2. Penerimaannya terhadap diri, orang lain dan dunia. Orang yang mencapai tingkat aktualisasi diri menerima dirinya, menjadi bagian dari komunitas umat manusia, dan dunia yang alamiah tanpa malu, jijik atau bermusuhan
3. Spontanitas. Orang yang mencapai tingkat aktualisasi diri cenderung memiliki keinginan yang besar dan antusiasme dalam hidup. Mereka bisa menjalani pengalaman hidup yang menyedihkan, dan menghadapinya tanpa merasa terbebani dengan tanggung jawab yang dipikulnya
4. Fokus pada masalah, bukan pada dirinya sendiri. Orang yang mencapai tingkat aktualisasi diri cenderung fokus pada masalah dan solusi yang aktual. Mereka bekerja secara efektif pada situasi masalah. Mereka tidak larut pada sikap mengasihani diri sendiri
5. Detachment. Mereka tidak ingin terlibat terlalu dalam pada masalah orang lain dan membutuhkan privasi. Mereka memiliki kualitas ketercukupan diri, dan hubungan antar pribadi mereka tidak dicirikan dengan posesifitas, ketergantungan, dan intrusif
6. Otonomi dan independensi. Mereka tidak tergantung pada orang lain. Mereka juga tidak ikut-ikutan pada persoalan tren, keremeh-temehan. Mereka umumnya tidak dipengaruhi baik bujukan dan kritikan
7. Apresiasi. Mereka memiliki apresiasi yang baik terhadap manusia dan makhluk lain. Mereka tidak terpengaruh dengan stereotipe
8. Spontanitas pengalaman. Sebagian besar dari mereka mendapatkan pengalaman mistis yang mendalam
9. Identifikasi dengan umat manusia. Mereka memiliki kepedulian dan rasa memiliki terhadap kemanusiaan. Mereka memberikan simpati, rasa kasihan, dan kasih sayang terhadap manusia lain
10. Kedalaman hubungan pribadi. Mereka membentuk hubungan yang dalam dengan beberapa orang yang mereka cintai. Mereka sangat selektif dalam membangun hubungan yang dalam, tapi juga menciptakan hubungan dangkal secara efektif dan bersahabat
11. Nilai dan bersikap demokratis. Mereka menunjukkan penerimaan yang religius, rasial dan etnis
12. Mampu membedakan antara tujuan dan proses. Mereka mampu membedakan antara tujuan dan proses dan mengejar hasil yang etis dengan kepastian dan keteguhan
13. Humor yang filosofis. Mereka memiliki rasa humor yang filosofis dan spontan. Candaan mereka tidak bersifat bermusuhan dan mengabaikan orang lain
14. Kreatifitas. Mereka kreatif, orisinil dan berbeda dalam berfikir
15. Resisten terhadap konformitas. Mereka resisten terhadap konformitas yang buta terhadap budaya. Mereka memberlakukan individualiti dan respon yan bermakna terhadap pola-pola budaya
2. Kepribadian Dewasa Allport
Gordon allport mengemukakan 6 karakteristik utama yang menggambarkan kedewasaan secara psikologis. Karakteristik yang dipaparkan oleh allport adalah:
1. Perluasan diri. Orang yang dewasa mampu memperluas konsep dirinya melalui perasaan peduli dan memiliki sesama individu, sebab-sebab, dan institusi-institusi dan bahkan kepada umat manusia sendiri. Melalui proses perluasa diri ini, maka milik orang lain sama pentingnya dengan miliknya sendiri. Ekstensi ini juga menjadi komitmen untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan kemanusiaan. Orang yang dewasa mampu berpartisipasi, mengidentifikasi, dan bekerja keras untuk tujuan-tujuan yang lebih besar daripada apa yang dia miliki
2. Membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Orang yang dewasa mampu membangun keakraban dan cinta. Hubungan antar pribadinya dicirikan dengan empati dan belas kasihan, bukan sikap posesif dan permusuhan. Orang yang dewasa mampu memberi cinta, sedangkan orang yang tidak dewasa hanya ingin dicintai. Orang yang dewasa memberi cinta tidak mengubahnya
3. Perasaan aman secara emosional. Bagi kepribadian yang dewasa, perasaan aman secara emosional meningkatkan penerimaan terhadap diri sendiri. Rasa aman ini membuatnya bisa menoleransi rasa frustasi dan mencegah reaksi yang berlebihan. Rasa aman ini ditunjukkan dengan kontrol-diri dan kemampuan untuk menunda kepuasan. Dengan rasa aman secara emosional, orang yang dewasa bisa mempertahankan pandangan yang realistis dan mengontrol emosi atau dorongan-dorongan impulsif
4. Persepsi, keterampilan, dan tingkah laaku yang realistis. Orang yang dewasa mamppu bertindak secara efisien dalam hal persepsi dan kognisi. Dia mampu berperilaku secara akurat dan intelek. Dia juga memiliki kemampuan dan teknik memecahkan masalah yang efektif. Dia fokus pada kekuatan yang dia miliki daqlam menyelesaikan pekerjaan. Dia mandiri dan tidak tergantung pada orang lain
5. Objektifikasi, pandangan dan rasa humor. Kepribadian yang dewasa memiliki pandangan yang realistis. Dia memahami dirinya. Dia memiliki rasa humor yang baik. Dia mampu menertawai dirinya sendirikarakteristik ini adalah hasil dari kemampuannya untuk menempatkan dirinya pada perspektif yang tanpa distorsi. Di mampu menempatkan karakteristiknya pada perspektif yang objektif dan menertawai dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang absurd
6. Pandangan hidup yang menyatu. Kepribadian yang dewasa menggunakan beberapa pendekatan yang menyatu terhadap kehidupan yang memberi konsistensi dan makna terhadap perilakunya. Dia telah mengembangkan pendekatannya dalam sistem nilai yang relevan secara personal dan suatu kesadaran atau arahan terhadap perilaku yang membantunya mengimplementasikan nilai-nilainya. Pendekatan yang menyatu ini terhadap kehidupan mungkin menggunakan bentuk apa yang disebut dengan orientasi religius.
Dengan demikian Allport mengembangkan kepribadian yang dewasa sebagai pencapaian tipe manusia secara sosial. Manusia ini aktif, efektif, dan berorientasi pada nilai.
3. Teori Roger tentang Manusia yang berfungsi secara total
Carl Rogers telah mengamati pembentukan kepribadian manusia yang efektif melalui orientasi teoritis dan pengalaman klinisnya sendiri. Dia membangun konsep “manusia yang berfungsi secara total” yaitu pasien yang berhasil dalam terapi yang terpusat pada klien. Rogers menawarkan 3 karakteristik utama jenis kepribadian ini:
1. Orang ini bersikap terbuka terhadap pengalamannya, yaitu dia tidak defensif atau resisten terhadap aspek-aspek lingkungannya yang mungkin menyebabkan perubahan. Semua aspek lingkungan yang mengitarinya dalam bentuk persepsi yang akurat dan realistis. Tidak ada hambatan yang bisa meenghalangi kemungkinan orang tersebut mendapatkan semua pengalaman yang ada dalam hidupnya.
2. Orang ini akan hidup dengan cara eksistensial; yaitu dia menjalani hidupnya sebagai suatu bagian dari proses menjadi. Dia hidup dengan aliran pengalaman yang cair bukan cara yang kaku. Tidak ada struktur yang menekan atau organisasi yang ketat
3. Orang ini percaya pada dirinya. Dia akan melakukan sesuatu yang dia anggap benar, dan menempatkan perasaannya sebagai sesuatu yang bermanfaat dalam meengarahkan perilakunya. Dia memiliki kemampuan untuk mengarahkan dirinya dan konsisten yang terjadi secara alamiah bukan sekedar menerima sesuatu dari pengalamannya
Roger menyimpulkan 3 karakteristik ini dengan cara sebagai berikut:
Dia lebih mampu menjalani semua perasaannya tanpa merasa khawatir terhadapnya; dia yang menyaring semua sumber pengalamannya sendiri; dia sungguh terlibat dalam proses menjadi dirinya sendiri dan dia menjadi orang yang realistis secara sosial; dia hidup sekarang tapi belajar untuk menghargainya sebagai keseluruhan pengalamannya. Dia adalah orgnisme yang berfungsi secara penuh dan karena kesadaran dirinya yang mengalir dengan bebas dan melalui pengalaman-pengalaman ini, dia menjadi orang yang berfungsi secara total

Teori Shober tentang Kepribadian Normal
Shoben (11) menganalisa pertanyaan tentang normalitas dengan menunjukkan bahwa konsep tersebut bisa saja didefinisikan dengan metode statistik dimana frekuensi statistik yang menunjukkan kemunculan perilaku adalah index normalitas, atau cara yang relatif secara kultural yaitu cara dimana karakteristik atau perilaku yang dibentuk secara individual berhubungan dengan nilai-nilai beberapa kelompok referen
1. Keinginan untuk menerima konsekuensi perilakunya. Hal ini adalah tanggung jawab personal atau dimensi kontrol-diri
2. Kemampuan dalam membangun hubungan antar pribadi. Hal ini adalah kemampuan manusia untuk berfungsi sebagai makhluk sosial
3. Tanggung jawab terhadap masyarakat. Karakteristik ini melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi diri sebagai seorang anggota kelompok dan mengenal tujuan dari kelompok tersebut
4. Komitmen terhadap ide-ide dan standar-standar. Hal ini merepresentasikan kemampuan individu untuk komitmen kepada dirinya sendiri terhadap tatanan nilai yang melampaui dirinya sendiri
Teori Barron tentang Kepribadian yang Impresif (sound)
1. Pengorganisasi kerja yang efektif. Subjek yang mendapatkan nilai tinggi akan memiliki kemampuan adaptasi dan pemberdayaan yang baik selain memiliki energi yang lebih besar dan resisten terhadap stres
2. Persepsi-persepsi yang akurat. Kelompok yang memiliki kepribadian yang baik mendapatkan nilai yang tinggi pada tes akurasi persepsi. Mereka juga nampaknya memiliki pandangan dan pemahaman yang lebih baik tentang diri mereka sendiri
3. Integritas etis. Kelompok yang memiliki kepribadian yang baik nampak memiliki kemandirian yang baik dan memiliki prinsip-prinsip moral yang kuat dan terinternalisasi
4. Penyesuaian terhadap diri dan orang lain. Kelompok yang impresif nampak tidak defensif, tidak saling mempercayai, dan egoistis. Mereka menggambarkan diri mereka sendiri sebagai orang yang lebih bahagia

Teori Heath tentang Petualang yang layak
1. Optimis
2. Dekat dengan agama
3. Giat, aktif, agresif dan kompetitif
4. Terbuka
5. Spontan
6. menyenangkan
7. Kontak dengan sisi dalam dan luar dirinya
8. Inisiatif diperbanyak dengan perenungan
9. Rasa ingin tahu dipengaruhi oleh pemikiran kritis
10. Hubungan antar-pribadi yang intim tapi tidak tergantung pada penilaian
11. Toleran terhadap ambiguitas/
12. Rasa humor
Kepribadian yang Efektif
2. Konsistensi. Orang yang efektif secara konsisten terhadap tingkah laku mereka, baik dalam peran sosial antar waktu maupun peran sosial secara keseluruhan. Elemen konsistensi tersebut didasarkan atas makna yang terigrasi dengan baik dari identitas personal yang memberikan petunjuk dan menyatukan tingkah laku.
3. Komitmen. Orang yang efektif harus mampu berkomitmen terhadap diri sendiri dalam hal tujuan dan cita-cita. Dia harus mampu menghadapi resiko, menghitung resiko tersebut secara psikologi, ekonomis, dan secara fisik agara supaya mencapai cita-cita yang diinginkan. Terkadang dia mampu berkomitmen terhadap diri sendiri dalam kondisi nilai-nilai yang melampaui diri dimana dapat memberikan makna dan tujuan hidup agar supaya terhindar dari sikap keputus asaan atau perasaan takut mati.
4. Kontrol. Orang yang efektif mampu mengontrol keinginan emosi dan reaksi. Dia mampu menerima sesuatu yang tak berubah dan tak terelakkan tanpa reaksi emosional yang tidak sesuai dengan watak dan intensitas. Secara khusus mampu mengatasi frustasi, kebingungan, dan kebencian tanpa reaksi emosianal tersebut.
5. Kompetensi. Orang yang efektif memiliki berbagai macam cara dalam mengatasi tingkah laku. Dia adalah seorang problem solver (pemberi solusi). Dia memiliki berbagai cara terhadap pemahaman interspersonal yang efektif untuk menyesuaikan diri tehadap lingkungan baik peran vokasional dan avokasional. Dia mampu menguasai lingkungan dengan keterbatasan kemungkinan yang ada pada dirinya
6. Kreatifitas. Orang yang efektif mampu berpikir yang sebenarnya dan dengan cara berbeda. Dia tidak menahan ide dan hasrat dari sesuatu yang tidak konvensionil dan tidak diketahui. Secara persepsi, dia peka terhadap persamaan dan perbedaan yang tersembunyi dari kebanyakan orang karena mereka (orang tersebut) mungkin tidak sesuai dengan harapan yang telah ditetapkan. Pikirannya berjalan lancar dan secara dalam berhubungan dengan perasaannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s