SEJARAH /HISTORI TESTING MODERN

Pendahuluan
Tinjauan singkat atas para pendahulu historis dan asal mula testing psikoloigis akan memberikan wawasan dan bantuan dalam memahami tes-tes dewasa ini. Arah perkrmbangan testing psikologis dewasa ini bisa kelihatan lebih jelas bila difahami dari sudut pandangan pra pendahulunya. Batasan-batasan khusus dan juga manfaat yang menandai tes-tes dewasa ini juga lebih dapat dimengerti jika dipandang dalam kaitan dengan latar belakang munculnya tes-tes tersebut. Pembahasan ini berkaitan hanya dengan pendahulu dan perkembangan awal gerakan testing secara keseluruhan.
Akar-akar testing sulit ditemukan karena hilang tertelan waktu. Ada berbagai uraian tentang system ujian pegawai negeri yang muncul di kekaisaran Cina selama 2000 tahun (Bowman, 1989). Dikalangan orang Yunani kuno, testing merupakan pendamping tetap proses pendidikan. Tes-tes digunakan untuk mengukur penguasaan keterampilan-keterampilan fisik dan juga intelektual (Doyle, 1974). Sdudah dari awal munculnya tes di abad pertengahan, universitas-universitas di Eropa mengandalkan jian formal dalam hal member gelar dan penghargaan, bagaimanapun juga untuk mengidentifikasi perkembangan-perkembangan utama sampai menghasilkan testing dewasa ini, kita perlu mempelajari abad 19. Perkembangan pada jaman inilah yang hendak kita lihat.
Minat Awal Pada Klasifikasi Dan Pelatihan Orang-Orang Yang Terbelakang Mentalnya
Abad ke-19 menyaksikan bangkitnya minat pada pengobatan yang lebih manusiawi terhadap orang-orang gila dan mereka yang mentalitasnya terkebelakang. Sebelum itu orang ini lazimnya diabaikan, dicemooh, bahkan disiksa. Dengan munculnya kepedulian akan perawatan yang layak bagi orang-orang yang mempunyai masalah mental, semakin disadari perlunya criteria untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kasus-kasus ini. Pendirian banyak lembaga social untuk perawatan orang-orang bermentalitas terbelakang baik di Eropa maupun AS menimbulkan kebutuhan untuk menetapkan standar-standar penerimaan dan system klasifikasi yang obyektif.
Pertama, perlunya membedakan antara orang gila dan orang bermentalitas terbelakang. Orang gila menampilkan ganggan-gangguan emosional yang bisa atau tidak bisa disertai oleh penurunan daya intelektual dari tingkat yang semula normal; orang bermental terbelakang pada dasarnya ditandai oleh adanya kerusakan intelektual sejak lahor atau smasa kecil.
Sumbangan yang sangat penting dalam hal ini diberikan oleh seorang dokter Prancis Seguin yang merintis pelatihan orang-orang dengan terbelakang mental, setealah menolak pandangan umum bahwa keterbelakangan mental tidak dapat disembuhkan. Seguin (1866/1907) melakukan eksperimen bertahun-tahun dengan apa yang disebutnya metode pelatihan fisiologis.
Lebih dari setengah abad setelah karya Esquirol dan Seguin, psikolog Prancis Alfred Binet mendesak anak-anak agar yang gagal untuk memberikan respon pada sekolah yang normal diperiksa sebelum pulang sekolah, dan jika dianggap bisa dididik anak itu ditempatkan pada kelas-kelas khusus (T.H. Wolf,1973). bersama rekannya yang anggota society for the psychological study of the child, Binet mendorong ministry of public instruction untuk mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi anak-anak terkebelakang. Hasilnya adalah terbentuknya komisi pada tingkat kementerian untuk studi anak-anak terkebelakang, tempatBinet ditugaskan. Penugasan ini adalah peristiwa besar dalam sejarah testing psikologis.
Psikolog-Psikolog Eksperimental Pertama
Psikolog-psikolog eksperimental awal abad ke-19 pada umumnya tidak peduli dengan pengukuran perbedaan-perbedaan individu. Tujuan utama para psikolog pada abad itu adalah perumusan deskripsi umum tentang prilaku manusia. Yang merupakan focus perhatian adalah keseragaman, bukannya perbedaan-perbedaan dalam prilaku. Perbedaan-perbedaan individual diabaikan atau diterima sebagai sesuatu yang pasti buruk yang membatasi penerapan generalisasi. Jadi fakta bahwa seseorang berekasi secara berebeda satu dengan yang lain ketika diamati dalam kondisi-kondisi serupa, daianggap sebagai suatu bentuk kesalahan. Adanya kesalahan seperti ini, atau variabilitas individual,memebuat generalisasi bersifat mendekati dan bukannya eksak. Inilah sikap terhadap perbedaan-perbedaan individual yang dominan dalam laboratorium seperti yang didirikan oleh Wundt di Leipzig pada tahun 1879, tempat banyak psykolog eksperimental menjalani pendidikan mereka.
Masih banyak cara lain nyang ditempuh psikolog eksperimental abad ke-19 untuk mempengaruhi jalannya testing. Eksperimen-eksperimen psikologis awal menunjukkan kebutuhan akan kendali yang ketat akan kondisi observasi. Contohnya pemakaian kata-kata dalam petunjuk yang diberikan kepada peserta dalam eksperimen waktu-reaksi bisa cukup meningkatkan atau menurunkan kecepatan respon peserta. Atau juga kecerahan atau warna lingkungan sekeliling bisa benar-benar merubah tampilan stimulus visual. Dengan demikian pentingnya membuat observasi terhadap semua peserta eksperimental di bawah kondisi-kondisi standarditunjukkan dengan jelas. Standardisasi prosedur seperti ini pada akhirnya menjadi salah satu ciri-ciri khusus tes psikologi.
Sumbangan Francis Galton
Biolog Inggris, Francis Galton adalah oaring yang bertanggung jawab atas peluncuran gerakan testing. Factor pemersatu dalam pelbagai aktivitas penelitian Galton adalah minatnya dalam hereditas manusia. Dalam rangka penelitian atas hereditas, Galtonmenyadari kebutuhan pengukuran cirri-ciri dari orang yang masih punya hubungan keluarga dan yang tidak punya hubungan keluarga. Hanya dengan cara ini dia bisa mnemukan misalnya derajat kesamaan yang tepat antara orang tua dan keturunan, saudara laki-laki dan perempuan, sepupu atau saudara kembar. Dengan perspektif ini Galton membantu dengan mendorong sejumlah lembaga pendidikan untuk mempertahankan catatan anthropometris sistematis tentang siswa-siswa mereka.
Galton sendiri merancang sebagian besar tes-tes sederhana yang diselenggarakan pada laboratorium anthropometrisnya. Banyak diantara tes-tes ini masih dikenal, baik dalam bentuk aslinya, maupun yang sudah dimodifikasi. Galton yakin bahwa tes-tes pembedaan indrawi bisa berfungsi sebagai sarana untuk mengukur intelek seseorang. Dalam hal ini ia dipengaruhi oleh teori-teori Locke
Galton juga merintis penerapanb metode skala peringkat dan kuesioner dan juga penggunaan tekhnik asosiasi bebas yang selanjutnya diterapkan dalam pengembangan metode statistiknya untuk analisis data tentang perbedaan-perbedaan individu. Galton menyeleksi dan mengadaptasi sejumlah tekhnik yang sebelumnya diturunkan oleh para matematikawan. Tekhnik-tekhnik ini disesuaikan ke bentuk tertentu sedemikian rupa sehngga bisa digunakan oleh penyidik yang tidak terlatih secara matematis, yang mungkin akan memperlakukan hsil tes secara kuantitatif. Dengan cara itu dia memperluas aplikasi prodsedur statistic sampai analisa data tes.
Cattel dan “Tes-Tes Mental” Awal
James Mckeen Cattel, seorang psikolog Amerika, menduduki tempat penting dalam perkembangan testing psikologis. Karya Cattel mempertemukan ilmu psikologi eksperimental yang baru didirikan dan gerakan testing yang lebih baru. Minat Cattel dalam pengukuran perbedaan individual dikuatkan lagi lewat kontaknya dengan Calton.
Tes-tes Cattel khususnya ditemukan dalam sejumlah rangkaian tes yang dikembangkan selama dasawarsa terakhir abad ke-19. Rangkaian tes semacam ini diselenggarakan bagi anak sekolah, mahasiswa dan berbagai orang dewasa
Sejumlah rangkaian tes yang disusun oleh psikolog Amerika pada masa itu cenderung meliputi fungsi-fungsi yang agak kompleks . Kraepelin (1895) yang terutama berminat pada pemeriksaan klinis atas paSien-pasien psikiatris, mempersiapkan serangkaian tes-tes untuk mengukur apa yang dianggap sebagai factor-faktor dasar dalam karakterisasi seorang individu. Tes –tes ini yang cuma memanfaatkan operasi-operasi aritmetika sederhana dirancang untuk mengkur efek-efek praktik , memori dan kerentanan terhadap kelelahan dan gangguan.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Prancis tahun 1895, Binet dan Henri mengkritik sebagian besar rangkaian tes karena terlalu indrawi dan terlalu berkonsentrasi pada kemampuan-kemampuan yang sederhana dan terspesialisasi. Mereka berpendapat bahwa dalam pengukuran fungsi-fungsi yang lebih kompleks, sebenarnya tidak diperlukan presisi yang tingkat tinggi, karena perbedaan-perbedaan individu lebih besar dalam fungsi-fungsi ini. Sebuah daftar tes yang ekstensif dan bervariasi diusulkan, meliputi fungsi-fungsi seperti memori, imajinasi, perhatian, pemahaman, sugestibilitas, apreseasi etnis dan banyak lagi lainnya. Dalam tes-tes ini kita bisa mengenal tren yang akhirnya pengarah pada pengembangan skala intelegensi Binet.

Binet Dan Munculnya Tes-Tes Kecerdasan
Binet dan rekan-rekan sekerjanya mencurahkan waktu bertahun-tahun untuk penelitian aktif dan sederhana tentang cara-pengukuran intelegensi. Banyak pendekatan tekah dicoba, bahkan mencakup pengukuran bentuk cranial (tengkorak), muka dan tangan tetapi hasil-hasilnya menimbulkan keyakinan makin besar bahwa pengukuran langsung, meskipun kasar atas fungsi-fungsi intelektual yang kompleks membawa harapan yang sangat besar. Lalu muncullah situasi tertentu yang memungkinkan usaha-usahaBinet segera menunjukkan hasil-hasil praktis. Pada tahun 1904 menteri pengajkaran umum menugaskan komisi yang sudah disebut sebelumnya untuk mempelajari prosedur-prosedur untuk pendidikan anak yang terbelakang. Dalam kaitan dengan sasaran komisi inilah Binet bekerja sama dengan Simon menyiapkan skala Binet-Simon yang pertama (Binet & Simon, 1905).
Skala ini yang dikenal sebagai skala 1905 terdiri dari 30 masalah atau tes yang diatur dalam urutan tingkat kesulitan yang makin tinggi. Tingkat kesulitan ditentukan secara empiris dengan menyelenggarakan tes pada 50 anak normal berusia 3 – 11 tahun, dan pada sejumlah anak bermental terkebalakang dan orang dewasa. Tes-tes ini dirancang untuk mencakup rentang fungsi-fungsi yang luas dengan penekanan khusus pada penilaian, pemahaman dan penalaran yang dianggap binet sebagai komponen hakiki intelegensi. Meskipun termasuk disini tes-tes inderawi dan persepsi, proporsi muatan verbal sebenarnya telah jauh lebih banyak ditemukan pada skala ini ketimbang pada rangkaian tes-tes lain waktu itu. Skala 1905 di sajikan sebagai instrument permulaan dan tentatif, dan tak satupun metode obyektif yang tepat untuk sampai pada skor total yang dirumuskan.
Pada skala kedua, atau skala 1908 jumlah tes ditingkatkan, sejumlah tes yang tidak memuaskan pada skala terdahulu dihapus, dan semua tes dikelompokkan kedalam tingkatan umur atas dasar kinerja dari 300 anak normal berusia 3-13 tahun. Dengan demikian pada level 3 tahun dutempatkan semua tes yang sudah dilalui oleh 80-90 % anak-anak normal berusia 3 tahun, pada level 4 tahun semua tes yang dilalui oleh anak-anak normal 4 tahun, dan seterusnya sampai umur 13 tahun. Skor anak pada seluruh tes bisa dirumuskan sebagai tingkat mental yang berhubungan dengan usia anak-anak normal yang kinerjanya sama. Dalam berbagai terjemahan dan adaptasi skala Binet, istilah “usia mental” mumnya digunakan untuk menggantikan “tingkatan mental” karena usia mental adalah konsep yang begitu sederhana untuk ditangkap. Introduksi istilah ini tidak diragukan lagi sangat berjasa mempopulerkan testing intelegensi.
Revisi ketiga skala Binet-Simon muncul pada tahin 1991, dalam skala ini tidak dilakukan perubahan pundamental. Yang dilakukan adalah revisi kecil dan relokasi atas tes-tes khusus. Lebih banyak tes ditambahkan pada level beberapa tahun, dan skala ini diperluas sampai pada level orang dewasa.
Testing Kelompok
Tes-tes Binet, seperti halnya semua revisinya juga adalah skala individual. Artinya tes-tes itu bisa diadakan hanya untuk satu orang. Banyak tes dalam skala ini membutuhkan respon lisan dari peserta tes atau membutuhkan manipulasi materi. Sejumlah tes menuntut pengukuran waktu respon individu. Karena alas an ini dan alas an lainnya, tes-tes seperti ini tidak diadaptasikan untuk tes kelompok. Ciri khas lain dari tipe Binet ini adalah bahwa tes ini membutuhkan seorang penguji tes yang amat terlatih. Tes-tes seperti ini pada dasarnya adalah instrumnen-instrumen klinis, yang sesuai untuk telaah intensif atas kasus-kasus individu.
Testing kelompok seperti skala Binet pertama dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan praktis. Tes-tes ynag pada akhirnya dikembangkan oleh psikolog angkatan darat AS dikenal dengan nama Army Alfa dan Army Beta. Army alfa dirancang untuk testing rutin umum, sedangkan army beta adalah skala non ahasa yang diterapkan pada orang-orang buta huruf dan pada orang-orang asing yang direkrut yang tidak bisa menjalani dalam bahasa Inggris. Kedua tes ini sesuai untuk penyelenggaraan tes-tes bagi kelompok besar.
Karena dirancang sebagai instrumen testing massa, tes-tes kelompok tidak hanya memperbolehkan pemeriksaan kelompok-kelompok besar secara serentak, melainkan juga menggunakan instruksi dan prosedur administrasi yang disederhanakan; karenanya menuntut pelatihan minimal pada pihak penguji. guru-guru sekolah mulaimemberi tes intelegensi di kelas mereka, para mahasiswa dites secara rutin sebelum diterima. Dilakjukan pula telaah ekstensif tentang kelompok-kelompok orang dewasa khusus seperti orang-orang tahanan. Dan tak lama setelah itu masyarakat umum menjadi sadar IQ.

Testing Bakat
Meskipun tes-tes intelegensi pada awalnya dirancang untuk mensampelkan dari berbagai fungsi dalam rangka memperkirakan tingkat intelektual umum individu, jelaslah bahwa tes-tes semacam itu agak terbatas dalam cakupannya. Tidak semua fungsi penting terwakili disana. Sebenarnya kebanyakan tes intelegensipada dasarnya merupakan ukuran kemapuan verbal dan dalam arti yan lebih sempit, kemampuan untuk menangani hubungan-hubungan numeric dan hubungan-hubungan abstrak dan simbolis. Perlahan-lahan psikolog akhirnya menyadari bahwa istilah tes intelegensi adalah nama yang salah, karena hanya aspek intelegensi yang diukur oleh tes-tes tersebut.
Sebelum perang dunia I para psikolog telah mulai mengakui perlunya tes bakat khusus untuk melengkapi tes-tes intelegensi global. Tes-tes bakat khusus ini dikembangkan secara khusus untuk digunakan dalam konseling pekerjaan dan dalam seleksi klasifikasi personil industry dan mliter. Diantara tes-tes yang digunakan paling luas adalah tes-tesbakat mekanikal, klerikal, musical, dan artistic.
Sementara aplikasi praktis tes menunjukkan perlunya tes multi bakat (multiple aptitude tes) perkembangan paralel dalam telaah atas organisasi trait secara bertahap memberikan sarana untuk menyusun tes semacam itu. Telaah statistic tentang hakekat intelegensi telah menyelidiki antara relasi diantara skor-skor yang telah diraih oleh banyak orang pada berbagai tes yang berbeda.
Salah satu hasil praktis utama dari analisis factor adalah perkembangan baterai multibakat (multiple aptitude batteries). Semua baterei ini dirancanguntuk memberikan ukuran dan sikap sesorang dalam setiap kelompok sifat. Sebgai ganti skor total IQ, skor yang terpisah diperoleh untuk sifat atau cirri seperti pemahaman verbal, bakat numerical, visualisasi spasial, penalaran aritmetika, dan kecepatan perceptual. Dengan demikian baterei semacam ini memberikan satu instrumen yang sesuai untuk melakukan analisis intra-individu, atau diagnosis differensial, yang ingin didapatkan oleh para pengguna tes selama bertahun-tahun, dari tes-tes intelegensi dengan hasil yang kasar dan kerap kali salah. Beterei-beterei ini juga memasukkan banyak informasi yang sebelumnya diperoleh dari tes-tes bakat khusus ke dalam program testing yang komprehensif dan sistematis, karena baterei multi bakat mencakup sejumlah tarit yang tak bisanya termuat dalam tes intelegensi.
Baterei multibakat mewkili perkembangan yang relatif mutakhir dalam bidang testing, hamper semua muncul pada sejak tahun 1945. Dalam kaitan ini karya para psikolog militer selama perang dunia II harus diperhatikan. Banyak riset tes yang dilakukan dlalam angkatan bersenjata didasarkan pada analisis factor dan diarahkan pada penyusunan baterei multibakat.
Perkembangan lebih mutakhir yang muncul pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an menyediakan integrasi mendasar dari dua pendekatan yang sebelumnya bertentangan bagi perkembangan mental, yang diwakili oleh intelegensi tardisional dan oleh baterei multibakat (anastasi, 1994). Semakin diakui bahwa kemapuan manusia dapat diukur dengan tepat pada berbagai tingkat keluasan, mulai dari bakat yang didefinisikan secara sempit pada tes-tes tertentu (atau bahkan pada soal-soal individual), melewati tingkat-tingkat trait yang semakin luas, sampai ke skor keseluruhan seperti IQ tradisonal. Untuk maksud-maksud testing yang berbeda berbagai tingkat keluasan yang berbeda adalah yang paling tepat.
Tes-Tes Prestasi Yang Dibakukan
Sementara para psikolog sibuk mengembangkan tes-tes intelegensi dan bakat, ujian sekolah tradisional mengalami sejumlah perubahan tekhnis (O.W.Caldwell & Courtis, 1923; Ebel & Damrin, 1960). Satu langkah penting kearah ini diambil oleh sekolah-sekolah negeri Boston pada tahun 1845, ketika ujian tertulis digantikan dengan interograsi lisan pada para siswa oleh para penguji yang dating ke sekolah-sekolah itu. Argumen-argumen yang ditawarkan pada waktu itu untuk mendukung inovasi ini antara lain adalah bahwa ujian-ujian tertulis menempatkan semua siswa daklam situasi seragam, memungkinkan suatu cakupan isi yang lebih luas, mengurangi unsur peluang dalam pilihan pertanyaan, dan menyingkirkan kemunhkinan pavoritisme pada pihak penguji. Argument-argumen ini banyak diguanakan kemudian hari untuk membenarkan penggantian pertanyaan-pertanyaan essei dengan soal-soal pilihan berganda yang obyektif.
Setelah peralihan abad ini, tes terstandar pertama untuk mengukur hasil pengajaran di sekolah mulai muncul. Dipelopori oleh karya E.L.Thorndike, tes-tes ini memakai prinsip-prinsip pengukuran yang dikembangkan dalam laboratorium psikologi. Contoh-contoh mencakup skala untuk penentuan peringkat kualitas tulisan tanganh dan karangan tertulis, dan juga tes dalam pengejaan, perhitungan aritmetikdan penalaran aritmetik.
Penyusunan program testing Nasional, regional dan Negara begian adalah perkembangan parallel yang patut dicatat. Barangkali yang paling dikenal dari program-program ini adalah College Entrance Examination Board (CEEB). Disusun pada pergantian abad ini dengan maksdu untuk mengurangi duplikasi dalam ujian masuk calon mahasiswa. Program ini telah menjalani berbagai perubahan besar dalam prosedur-prosedur testingnya dan dalam jumlah serta sifat dari semua perguruan tinggi yang ambil bagian di dalamnya. Pada tahun 1947 fungsi-fungsi testing CEEB digabung dengan fungsi-fungsi testing Carnegie Coorporation dan American council and education untuk membentuk Educational Testing Service (ETS). Dalam tahun-tahun selanjutnya ETS telah mengambil tanggungjawab untuk program-program testing yang makin banyak atas nama universitas, sekolah-sekolah professional, lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya.
Penilaian Kepribadian
Perintis awal testing kepribadian diillustrasikan oleh penggunaan Kraepelin atas tes asosiasi bebas dengan pasien-pasien psikiatris. Dalam tes ini, peserta ujian diberi kata-kata stimulu yang dipilih secara khusus dan mereka diminta memberikan respon pada setiap kata itu dengan kata pertama yang muncul dalam benak mereka. Kraepelin (1892) juga menggunakan tekhnik ini untuk mempelajari efek-efek psikologis dari keletihan, lapar dan obat bius. Ia menyimpulkan semua hal ini meningkatkan frekuensi relatif asosiasi-asosiasi superfisual. Sommer (1894), yang juga menulis elama dasawarsa terakhir dari abad ke-19 menyarankan bahwa tes-tes asosiasi bebas bisa digunakan untuk memilah-milahkan antara berbagai bentuk gangguan mental. Tekhnik asosiasi bebas selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai maksdu testing dan dewasa ini terus digunakan. Harus disebut juga disini karya Galton, Pearson dan Cattell dalam pengembangan kuosioner standard an tekhnik-tekhnik penentuan peringkat. Meskipun asalnya dirancang untuk maksud-maksud lain, prosedur-prosedur ini pada akhirnya digunakan oleh orang lain untuk menyusun sebagian tes kepribadian yang paling umum dewasa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s