Tenggelamnya kepercayaan masyarakat “antara Ilmiah dan anarkis”

Oleh

Muh Ilham Bakhtiar

(Mahasiswa Pascasarjana UNM dan Tim Pengembang Karakter UNM)

 “….Supaya kelak bisa hidup layak, diperlukan inisiatif dan keberanian menjalankan cara-cara baru yang berlaku dalam dunia baru. Inilah tahap awal pembentukan eksekutif, dan manusia mulai bekerja dgn ilmu, bukan dengan kebodohan yang anarkis….sebuah pesan para pemuda untuk menjadi Driver perubahan dimasa yang akan datang…”

Perubahan dalam batang tubuh akademik kampus kini harus mulai nampak, banyak kejadian yang nampak belakangan ini hanyalah membawa animo masyarakat umum menjadi buruk, buruk pandangan kepada mahasiswa. Mahasiswa sebagai masyarakat ilmiah bukan lagi sebuah pembawah aspirasi rakyat yang dapat dipercaya tetapi malah menjadi musuh masyarakat hal ini nampak dari budaya demo yang sudah anarkis, seakan tak memiliki watak yang baik untuk menyampaikan aspirasi, dimana nampak mahasiswa sudah turun dijalan dengan menghadang dan menutup jalan bahkan dengan membakar ban. Budaya Demo belakang ini memamng menampakkan budaya demo yang memang sangat Anarkis. walupun ini tujuannya menentang kebijakan pemerintah dan mengutamakan untuk kepentingan rakyat tetapi caranya juga akhirnya akan meresahan masyarakat. karena membuat kemacetan dimana-mana, bahkan harus berujung bentrok dengan aparat dan masyarakat juga. Sehingga masyarakat pun pada akhirnya akan tidak percaya lagi dengan cara ini untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa. Hal yang menjadi tanda tanya selama ini, inikah mahasiswa ilmiah ataukah mahasiswa anarkis ataukah inikah bentuk sebuah perubahan revolusi mental.

Setelah  reformasi, mahasiswa cenderung terbelah dengan berbagai kepentingan yang mereka usung. Maraknya sikap dan prilaku mahasiswa yang pragmatisme dan konsumerisme bahkan hedonisme, telah meracuni dan menjangkit di kalangan mahasiswa, kecenderungan ini bisa  di lihat  dari berbagai kegaiatan di lingkungan kampus, yang lebih banyak  untuk sekedar bersenang-senang , nongkrong dikantin, jalan-jalan ke mall dan memilik barang kehidupan di luar kemampuannya atau barang yang takberguna baginya.

 

Revolusi mental “ antara Ilmiah dan Anarkis”

Saat ini Revolusi Mental juga perlu di lestarikan pada lingkup kampus-kampus. Terutama dalam gaya penyampaian aspirasinya. Saat ini harus ditanamkan budaya demo yang mencerminkan masyarakat yang ilmiah dan beradab, baik sifatnya dialog terbuka, seminar, kajian, membuka forum ilmiah, menulis media cetak, ataukah turun kelapangan atau kejalan dengan model gaya demo yang lebih damai seperti teraterikal, menyebar leflet, dan lain sebagainya.

Kegiatan  intelektual yang bisa membangkitkan kesadaran akan peran-peran sosial  terasa sangat kurang, baik berupa kajian, diskusi, seminar ilmiah ataupun bazar-bazar buku. Kehidupan masyarakat yang memang sudah terasuki gaya hidup hedonistic, egoistic dan konsumerisme, tak ayal lagi menimpa kehidupan para pemuda khususnya mahasiswa, yang merupakan elemen pembentuk masyarakat itu sendiri. Sikap-sikap seperti ini sangat merugikan, karena kelompok yang diharapkan menjadi katalisator sosial,  berubah menjadi tempat bersemainya kepentingan-kepentingan pragmatis,  sekaligus menjadi ladang empuk  merebaknya gaya hidup hedonistic, yang cenderung pada kesenangan semata, yang pasti mengeliminasi  peran-peran sosial yan semestinya dijalankannya. Inilah yang membawa mental-mental mahasiswa semakin menjadi tak bersikap sebagai masyarakat ilmiah, malah menjadi anarkis dan tak perduli dengan aturan main kampus.

Perubahan dapat terjadi jika apa yang anda lakukan dengan keluar dari zona nyaman dan melakukan aktifitas yang lebih bermanfaat. Perlu di pahami bahwa pembawa perubahan yang besar adalah pergerakan mahasiswa. Oleh karena itulah pengaruh budaya dalam penyampaian aspirasi yang anarkis inilah yang harus di buang, sikap dan prilaku pragmatis dan katarsi semakin dihindari .Kedepan mengutamakan sikap idelisme yang benar, ilmiah dan berkarakter yang lebih baik, mengaktifkan diri pada forum forum ilmiah, ikut lomba ilmiah, debat, dan mengembangkan minat pada bidang tertentu. Masyarakat kampus yang idel kedepan akan tercapai sesuai keinginan masyakatat sebagai agen perubahan.

Gerakan Perubahan

Mahasiswa diidentikkan dengan “agent of change—agen perubahan”. Berbicara tentang perubahan erat sekali dengan mahasiswa sebagai kaum intelektual muda dan kaum masyarat ilmiah. Harapan besar untuk melakukan sebuah perubahan dan pembaharuan dalam berbagai bidang di dunia mana pun berada di pundak mereka (mahasiswa). Perubahan yang positif dalam paradigma masyarakat di makassar kini menuai tantangan besar karena berada pada tingkat kepercayaan masyarakat umum yang mulai menghilang.

Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekedar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “gerakan mahasiswa”. Kembali mengingat sejak abad ke 20, Keberadaan mahasiswa di tanah air ini harus dipandang tidak hanya saja dari segi eksistensi mereka sebagai sebuah kelas sosial terpelajar di dunia kampus yang akan mengisi peran-peran strategis dalam masyarakat. Tetapi, lebih dari itu mereka telah terlibat aktif dalam gerakan perubahan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebagai anak bangsa yang secara sosial mendapat kesempatan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang lain, mahasiswa kemudian menjadi penggerak utama dalam banyak dimensi perubahan sosial politik di tanah air pada masanya.

Peran Pendidikan Tinggi dalam mendorong mahasiswa untuk melakukan gerakan-gerakan perubahan yang lebih akademik dan ilmiah sangat diharapkan. Perguruan tinggi yang berada di makassar selama ini harus berani keluar dari tudingan-tudingan selama ini bahwa “perguruan tinggi di makassar hanya melahirkan mahasiswa yang anarkis, kritis tetapi tak bermoral atas berbagai persoalan di tanah air ini khususnya dalam menentang kebiajakan pemerintah”. Sekitar 40 Perguruan tinggi di makassar baik swasta maupun negeri harus berupaya untuk meningkatkan mutu dan membangun budaya-budaya ilmiah dan diskusi untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa. Memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, peran lembaga kemahasiswaan baik ditingkat jurusan, fakultas sampai ke univeitas semakin ditingkatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s